Recent Posts

Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Rabu, 29 Januari 2020, Program Studi (Prodi) Astronomi ITB kembali mengadakan pertemuan rutin pascasarjana. Kali ini, Ni Made Ayu Surayuwanti Putri, mahasiswa Prodi Astronomi ITB dengan jalur peminatan Pengembangan dan Pendidikan Astronomi, hadir sebagai pembicara dengan topik “Studi Etnoastronomi Budaya Masyarakat Bali.” Pertemuan tersebut berlangsung di ruang kuliah AS-1 gedung CAS lantai 6 ITB dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Pertemuan diawali dengan penjelasan singkat tentang kalender Çaka Bali dan kaitannya dengan peristiwa astronomi. Kalender Çaka Bali adalah kalender dengan sistem luni solar, yaitu kalender yang menggunakan sistem gerak matahari, bulan, dan bintang sebagai patokannya. Selain sistem gerak ketiga benda langit tersebut, masih ada satu sistem lagi, yaitu sistem wuku. Akan tetapi, sistem wuku tidak berpatok pada sistem benda langit, melainkan pada sistem budaya setempat.

Kalender Çaka Bali ini juga tergolong kalender yang unik. Penentuan umur satu bulan yang digunakan adalah berdasarkan periode sinodis bulan. Karena itulah lama satu bulan dalam kalender Çaka Bali berkisar 29-30 hari.. Maka konsekuensinya adalah, akan ada perbedaan sekitar 10 hari dalam setahun antara kalender Çaka Bali dengan kalender Masehi. Perbedaan tersebut dalam waktu tiga tahun akan terakumulasi menjadi satu bulan, yang membuat jumlah bulan setiap tiga tahun sekali akan menjadi 13 bulan. Periode tiga tahun sekali tersebut disebut sebagai tahun panjang, sedangkan satu tahun normal yang berisi 12 bulan disebut sebagai tahun pendek.

Selain itu, keunikan kalender Çaka Bali yang lain adalah penentuan awal tahunnya yang tidak selalu bertepatan dengan tanggal satu bulan pertama. Untuk tanggal satu bulan pertama ditetapkan ketika gugus Pleiades dapat diamati dengan tinggi sejajar terhadap arah pandang mata tegak ke depan. Hal tersebut juga menandai awal musim tanam bagi petani setempat. Sedangkan untuk tahun baru kalender Çaka Bali terjadi ketika matahari tepat berada di atas khatulistiwa atau yang biasa disebut vernal equinox. Tahun baru tersebut cenderung jatuh pada sekitar bulan kesembilan kalender Çaka Bali, dan biasa diperingati sebagai hari raya Nyepi.

(Sumber: az)

(Sumber: za)

Dalam kalender Çaka Bali juga dikenalkan sistem pancawara, yaitu seminggu yang terdiri dari lima hari. Hari tersebut adalah Umanis, Paing, Pon, Wage, serta Kliwon. Karena jumlah hari dalam kalender Masehi adalah tujuh hari, maka akan ada 35 kombinasi dari kedua sistem kalender tersebut. Dan dari masing-masing kombinasi tersebut, masyarakat Bali menyusun 35 jenis perwatakan yang berbeda satu sama lain, yang diidentikkan dengan benda langit dan dikenal dengan sebutan Lintang.

Contohnya, orang yang lahir di hari Sabtu Pon. Maka ia masuk dalam Lintang Sungenge yang merepresentasikan benda langit matahari. Orang dengan Lintang Sungenge memiliki sifat suka kemewahan, suka memamerkan kepintaran, namun pemaaf serta berpengaruh. Sifat tersebut berbeda dengan orang yang lahir pada Rabu Wage. Orang yang lahir pada hari tersebut termasuk dalam Lintang Kartika, yang merepresentasikan gugus Pleiades. Orang tersebut bersifat baik, dapat berlaku adil, mengerti nilai uang, namun kikir dan suka memamerkan kelebihan.

Tentu masih banyak lagi kombinasi sifat berdasarkan lintang tersebut. Hal itu memicu pertanyaan dari peserta pertemuan. Bagaimana bisa setiap kombinasi hari merepresentasikan benda langit? Apa patokan yang digunakan dalam menentukan representasi benda langit tersebut? Mengingat jumlah benda langit yang berbeda dalam 35 malam berturut-turut juga sangat terbatas, bagaimana masyarakat Bali saat itu menentukan benda langitnya? Atau jangan-jangan masih ada aspek lain di luar dari astronomi yang berpengaruh dalam sistem kalender Çaka Bali teresbut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak akan langsung dapat terjawab. Namun dengan banyaknya pertanyaan tersebut, tentu kita dapat berharap masa depan penelitian kalender Çaka Bali dari segi astronomis akan terus berlanjut. [az]

Itulah tadi informasi dari judi slot online mengenai Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tuesday, July 28, 2020

Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Rabu, 29 Januari 2020, Program Studi (Prodi) Astronomi ITB kembali mengadakan pertemuan rutin pascasarjana. Kali ini, Ni Made Ayu Surayuwanti Putri, mahasiswa Prodi Astronomi ITB dengan jalur peminatan Pengembangan dan Pendidikan Astronomi, hadir sebagai pembicara dengan topik “Studi Etnoastronomi Budaya Masyarakat Bali.” Pertemuan tersebut berlangsung di ruang kuliah AS-1 gedung CAS lantai 6 ITB dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Pertemuan diawali dengan penjelasan singkat tentang kalender Çaka Bali dan kaitannya dengan peristiwa astronomi. Kalender Çaka Bali adalah kalender dengan sistem luni solar, yaitu kalender yang menggunakan sistem gerak matahari, bulan, dan bintang sebagai patokannya. Selain sistem gerak ketiga benda langit tersebut, masih ada satu sistem lagi, yaitu sistem wuku. Akan tetapi, sistem wuku tidak berpatok pada sistem benda langit, melainkan pada sistem budaya setempat.

Kalender Çaka Bali ini juga tergolong kalender yang unik. Penentuan umur satu bulan yang digunakan adalah berdasarkan periode sinodis bulan. Karena itulah lama satu bulan dalam kalender Çaka Bali berkisar 29-30 hari.. Maka konsekuensinya adalah, akan ada perbedaan sekitar 10 hari dalam setahun antara kalender Çaka Bali dengan kalender Masehi. Perbedaan tersebut dalam waktu tiga tahun akan terakumulasi menjadi satu bulan, yang membuat jumlah bulan setiap tiga tahun sekali akan menjadi 13 bulan. Periode tiga tahun sekali tersebut disebut sebagai tahun panjang, sedangkan satu tahun normal yang berisi 12 bulan disebut sebagai tahun pendek.

Selain itu, keunikan kalender Çaka Bali yang lain adalah penentuan awal tahunnya yang tidak selalu bertepatan dengan tanggal satu bulan pertama. Untuk tanggal satu bulan pertama ditetapkan ketika gugus Pleiades dapat diamati dengan tinggi sejajar terhadap arah pandang mata tegak ke depan. Hal tersebut juga menandai awal musim tanam bagi petani setempat. Sedangkan untuk tahun baru kalender Çaka Bali terjadi ketika matahari tepat berada di atas khatulistiwa atau yang biasa disebut vernal equinox. Tahun baru tersebut cenderung jatuh pada sekitar bulan kesembilan kalender Çaka Bali, dan biasa diperingati sebagai hari raya Nyepi.

(Sumber: az)

(Sumber: za)

Dalam kalender Çaka Bali juga dikenalkan sistem pancawara, yaitu seminggu yang terdiri dari lima hari. Hari tersebut adalah Umanis, Paing, Pon, Wage, serta Kliwon. Karena jumlah hari dalam kalender Masehi adalah tujuh hari, maka akan ada 35 kombinasi dari kedua sistem kalender tersebut. Dan dari masing-masing kombinasi tersebut, masyarakat Bali menyusun 35 jenis perwatakan yang berbeda satu sama lain, yang diidentikkan dengan benda langit dan dikenal dengan sebutan Lintang.

Contohnya, orang yang lahir di hari Sabtu Pon. Maka ia masuk dalam Lintang Sungenge yang merepresentasikan benda langit matahari. Orang dengan Lintang Sungenge memiliki sifat suka kemewahan, suka memamerkan kepintaran, namun pemaaf serta berpengaruh. Sifat tersebut berbeda dengan orang yang lahir pada Rabu Wage. Orang yang lahir pada hari tersebut termasuk dalam Lintang Kartika, yang merepresentasikan gugus Pleiades. Orang tersebut bersifat baik, dapat berlaku adil, mengerti nilai uang, namun kikir dan suka memamerkan kelebihan.

Tentu masih banyak lagi kombinasi sifat berdasarkan lintang tersebut. Hal itu memicu pertanyaan dari peserta pertemuan. Bagaimana bisa setiap kombinasi hari merepresentasikan benda langit? Apa patokan yang digunakan dalam menentukan representasi benda langit tersebut? Mengingat jumlah benda langit yang berbeda dalam 35 malam berturut-turut juga sangat terbatas, bagaimana masyarakat Bali saat itu menentukan benda langitnya? Atau jangan-jangan masih ada aspek lain di luar dari astronomi yang berpengaruh dalam sistem kalender Çaka Bali teresbut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak akan langsung dapat terjawab. Namun dengan banyaknya pertanyaan tersebut, tentu kita dapat berharap masa depan penelitian kalender Çaka Bali dari segi astronomis akan terus berlanjut. [az]

Itulah tadi informasi dari judi slot mengenai Seri Pertemuan Pasca: Studi Etnoastronomi Budaya Bali oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 27, 2020

Unveiling the Atmosphere of Hot Jupiters using High-resolution Spectroscopy oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Unveiling the Atmosphere of Hot Jupiters using High-resolution Spectroscopy oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.71″][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.0.71″]

Kolokium Daring KK & Prodi Astronomi

2 Juli 2020, 16.00 WIB

Unveiling the Atmosphere of Hot Jupiters using High-resolution Spectroscopy

Pembicara: Dr. Stevanus Kristianto Nugroho

Afiliasi:
Queen’s University Belfast, UK

Kami mengundang seluruh peminat kolokium untuk dapat bergabung melalui tautan:
https://meet.google.com/fut-hsqm-nhp

Atas perhatian dan partisipasi aktifnya, kami sampaikan terima kasih.

Koordinator Kolokium,

Dr. Kiki Vierdayanti

Abstract

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.0.71″]

Using high-resolution spectroscopy, the molecular bands in the spectrum of exoplanet atmosphere are resolved into individual absorption/emission lines. The variation of Doppler shifts caused by its orbital motion enables absorption/emission lines in the exoplanet spectrum to be distinguished from telluric lines and ensures the unambiguous detection of specific molecules (H2O, CO, TiO, Na I, K I, Fe I, Fe II). This technique has become one of the most robust approaches in the attempt to characterise the exoplanet atmosphere. Using this, we detected the first unambiguous signature of TiO emission in the dayside of WASP-33b. Since then, we have extended our research to colder hot Jupiters to find out if TiO is common in the atmosphere of extremely hot Jupiters or if there are other possible thermal inversion agents. Here, we share our latest findings. I will present our recent results in detecting Fe I in the atmosphere of several hot Jupiters which suggest that it is common in the atmosphere of hot Jupiters and could be the main caused for temperature inversion (stratosphere) in this planet regime. Then, I will also present the current state of the art techniques in characterising exoplanet which can potentially be applied to a 4 m class telescope, e.g. Timau National Observatory, or smaller.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai Unveiling the Atmosphere of Hot Jupiters using High-resolution Spectroscopy oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 26, 2020

Interior Structure of Solar-like Star Ï„ Ceti oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Interior Structure of Solar-like Star Ï„ Ceti oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.0.47″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”3.0.47″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]

Kolokium Daring KK & Prodi Astronomi

Selasa, 16 Juni 2020, pukul 13.30 â€" 14.30 WIB

Interior Structure of Solar-like Star Ï„ Ceti

Pembicara: Farahhati Mumtahana, S.Si

Afiliasi:
Astronomi ITB
Pussainsa LAPAN

Kami mengundang seluruh peminat kolokium untuk dapat bergabung melalui tautan:
https://meet.google.com/fut-hsqm-nhp

Atas perhatian dan partisipasi aktifnya, kami sampaikan terima kasih.

Koordinator Kolokium,

Dr. Kiki Vierdayanti

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section][et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.71″][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_divider show_divider=”on” _builder_version=”3.0.71″ color=”#000000″][/et_pb_divider][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section][et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.71″][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.0.71″]

Abstract

Ï„ Ceti, a G8-V class star, has similar physical properties with our sun, even though most values are smaller and not as active as the sun. It has also been widely reviewed that this metal-poor population II star has terrestrial planetary systems, some of which are in the Habitable Zone. This paper aims to build the interior structure of Ï„ Ceti through modeling experiments with Modules for Experiments in Stellar Astrophysics (MESA) program. The work began with the determination of several fundamental parameters obtained from previous observations of both interferometry and spectroscopy on several references, and also from basic calculations which are then used as input to build the model in MESA. Structural modeling has been carried out in accordance with current star conditions, which is in the main sequence phase. Finally, the result various physical parameters so-called stellar interior structure such as mass, luminosity, pressure, temperature, radius, and age, as well as zonal division of nuclear core (R < 0.2

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Itulah tadi informasi dari daftar poker online terpercaya mengenai Interior Structure of Solar-like Star Ï„ Ceti oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Friday, July 24, 2020

Pengumuman Kolokium Astronomi 31 Jan 2020 oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Pengumuman Kolokium Astronomi 31 Jan 2020 oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Program Studi Astronomi FMIPA, ITB akan menyelenggarakan kolokium, pada

Hari: Jumat, 31 Januari 2020
Jam: 1300-1400 WIB
Tempat: Ruang Seminar Astronomi, Gedung CAS Lt. 6

dengan pembicara:

Pembicara: Hendra Agus Prastyo, S.Si., M.Si.
Judul: Spatiotemporal Analysis of Light Pollution Distribution Patterns Around Observatories in Indonesia

Kolokium terbuka untuk umum

Itulah tadi informasi dari daftar poker mengenai Pengumuman Kolokium Astronomi 31 Jan 2020 oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 18, 2020

Menyambut Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Menyambut Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Bersiaplah, sobat astro. Pada tanggal 26 Desember 2019 yang akan datang, tepat setahun lagi, akan terjadi Gerhana Matahari Cincin yang bisa disaksikan di Indonesia. Jalur pusat gerhananya akan melewati beberapa kota/daerah seperti Padang Sidempuan, Duri, Batam, Tanjung Pinang, Singkawang, dll. Sementara daerah lainnya bisa mengamati Gerhana Matahari Sebagian.

Peta lintasan Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019.

Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 akan tampak sebagai gerhana sebagian di banyak wilayah Indonesia. Di Pulau Jawa, Bali, NTT dan NTB, Matahari akan tertutupi 40%-70%. Semakin ke selatan dan timur, tingkat gerhananya semakin kecil, hingga 30% saja. Nah, mumpung masih lama, ayo persiapkan segalanya dari sekarang untuk ikut dadc mengamati GMC 2019 ke daerah yang dilintasi jalur pusat gerhananya!

Itulah tadi informasi dari poker online mengenai Menyambut Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 15, 2020

From Cracking the Mysterious Diffuse Interstellar Bands to Galaxy Map oleh - astronomiindonesia.xyz

Halo sahabat selamat datang di website astronomiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar From Cracking the Mysterious Diffuse Interstellar Bands to Galaxy Map oleh - astronomiindonesia.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.71″][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.0.71″]

Kolokium Daring KK & Prodi Astronomi

9 Juli 2020, 13.30 WIB

From Cracking the Mysterious Diffuse Interstellar Bands to Galaxy Map

Pembicara: Dr. Lucky Puspitarini

Afiliasi:
FMIPA ITB, KK Astronomi

Kami mengundang seluruh peminat kolokium untuk dapat bergabung melalui tautan:
https://meet.google.com/fut-hsqm-nhp

Atas perhatian dan partisipasi aktifnya, kami sampaikan terima kasih.

Koordinator Kolokium,

Dr. Kiki Vierdayanti

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_divider show_divider=”on” _builder_version=”3.0.71″ color=”#000000″][/et_pb_divider][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section][et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.71″][et_pb_row _builder_version=”3.0.71″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.71″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.0.71″]

Abstract

Interstellar matter (ISM) is a rich laboratory in providing numerous interstellar species. Many of them are still mystery. Diffuse interstellar bands (DIBs) are an enigmatic set of absorption features. DIBs behave like interstellar lines with regard to occurrence, strength, and Doppler shift. But, instead of being narrow like the interstellar lines, their profiles are widened (diffuse).

The carriers of the DIBs are still unclear, but very likely to be complex organic molecules. Two infrared DIBs have been confirmed to be caused by C60+. Despite the unknown carriers, DIBs can be a promising ISM tracer because (1) DIBs are ubiquitous in optical and IR domain, (2) DIBs are not easily saturated, and (3) DIBs are correlated with other interstellar parameters, e.g. interstellar extinction.

To measure DIBs in the spectra of massive stellar surveys, automated spectral analysis tools needs to be developed. We  present method to measure DIBs in early- and late-type stellar spectra.  We demonstrate that DIBs can trace the ISM distribution and kinematics at the Galactic scale.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Itulah tadi informasi mengenai From Cracking the Mysterious Diffuse Interstellar Bands to Galaxy Map oleh - astronomiindonesia.xyz dan sekianlah artikel dari kami astronomiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 4, 2020